Tips Membeli Rumah Pertama Kali untuk Generasi Milenial

Harapan untuk mempunyai rumah milik sendiri, tentu menjadi impian bagi banyak orang, termasuk kalangan generasi milenial. Dibutuhkan kerja keras dan gaya hidup hemat supaya rumah impian milik sendiri tersebut dapat terwujud.

Untuk membantu kaum milenial agar dapat memiliki hunian, saat ini pemerintah sudah mengeluarkan bermacam kebijakan yang mempermudah masyarakat untuk membeli rumah memakai fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Pihak Bank Indonesia bahkan sudah melakukan peraturan baru berkaitan relaksasi loan to value (LTV) yang membuat uang muka menjadi semakin ringan.

Walau demikian, bukan berarti membeli dari pengembang tidak memiliki resiko. Sebaiknya tetaplah untuk berhati-hati dan teliti supaya tidak dirugikan oleh developer properti yang nakal.

Lalu, apa saja yang perlu generasi milenial amati, supaya aman ketika melakukan pembelian rumah pertama? Simak tipsnya berikut ini.

Baca Juga: Perumahan Sentul City

Tentukan lokasi rumah yang disukai
Hal petama yang harus diperhatikan oleh kaum milenial saat akan membeli rumah yaitu memilih lokasi tempat tinggal yang disenangi. Banyak unsur yang jadi penentu kaum milenial untuk memilih lokasi sebuah hunian.

Diantaranya adalah jarak antar daerah tempat tinggal dengan daerah tempat bekerja ataupun pusat perbelanjaan. Lalu, kemudahan dalam menjangkau jalan masuk transportasi / kendaraan, serta lingkungan perumahan yang sehat.

Cari tahu info mengenai developer rumah
Bila sudah memperoleh lokasi yang sesuai, saatnya cari tahu developer rumah yang terpercaya. Sebelum memutuskan membeli hunian dari developer, cobalah untuk mencari tahu mengenai track record, sejarah bisnis, dan terhadap pihak bank mana saja pengembang tersebut telah bekerjasama.

Apabila pengembang sudah melakukan kerjasama untuk penyaluran kredit konstruksi (modal kerja) dan KPR dengan pengembang, karenanya dapat dipastikan pihak bank sudah melakukan uji kecocokan kepada pengembang tersebut.

Pastikan status hak atas tanah
Sebelum membeli perlu dipastikan status hak atas tanah proyek yang akan dibeli. Apakah Hak Milik, Hak Guna Bangunan (HGB), Hak Pengelolaan Lahan (HPL), atau Hak Gunakan (HP).

Simak Juga Juga: Perumahan di Sentul Bogor

Kalau tanah berstatus HGB, itu berarti kewenangan diberikan pemerintah atau hak untuk memakai lahan yang bukan miliknya dengan jangka waktu 30 tahun yang bisa diperpanjang sampai 75 tahun.

Perhatikan cara kerja pemesanan dan penandatanganan PPJB
Disaat cara kerja pemesanan(booking fee), jangan lupa untuk meminta pengembang mencantumkan secara tertulis dalam surat pemesanan apa saja yang dijanjikan.

Perjanjian dapat berupa persoalan fasilitas, waktu pembangunan, dan lain-lain. Dengan demikian calon pembeli mempunyai bukti jika pengembang ingkar janji atas komitmen yang dijanjikan.

Sebelum Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) ditandatangani, Anda seharusnya memastikan para pihak yang akan menandatangani PPJB, termasuk status perusahaan developer, apakah badan hukum atau pribadi.

Teliti kembali spesifikasi hunian saat serah-terima
Pada saat serah terima rumah dari developer properti, teliti kembali seluruh spesifikasi
sesuai dengan apa yang telah dijanjikan. Misalkan, spesifikasi rumah (lokasi, luas, bentuk, dan bahan material), apakah sesuai dengan yang telah tercantum dalam PPJB.

Kalau terdapat ketidaksesuaian, maka Anda sebagai pembeli memiliki hak untuk menolak menandatangani beritaacara serah terima fisik sebelum developer menyelesaikan seluruh kewajiban sesuai ketetapan PPJB. Apabila pengembang tidak bersedia memenuhi segala kewajibannya, pembeli dapatĀ  menempuh jalur hukum.

Kunjungi juga: Cluster Baru di Sentul City